Ulasan

Jason Ranti: Garis tipis antara komedi dan satir

Kita semua punya pendirian dan pemahaman akan sebuah musik yang bagus. Bagi seorang melankolis musik yang bagus barangkali adalah musik yang mampu membawa emosi serta gairah ke dalam titik nadir depresi maupun kontemplasi, yang liriknya cenderung transendental dan mengawang-awang. Seorang eksperimental barangkali menganggap bahwa musik bagus adalah tentang konsistensi merepetisi sebuah corak instrumen, bagi seorang pemberontak bisa beda lagi, musik yang bagus adalah musik yang dari substansi lirik mengandung umpatan dan kata-kata yang tendensinya penuh dengan amarah dan ketakacuhan.

Jerry Seinfeld pernah berujar di Talking Funny, acara talk show yang dirilis secara spesial oleh HBO bahwa:

“a really good bits (or in a wider spectrum, comedy) go deep into your head and keep coming back”

Tentu apa yang dikatakan Seinfeld beralasan, bit(s) adalah bagian dari keseluruhan aksi komedi, dalam hal ini stand up comedy. Lalu bagaimana jika pendekatan ini diaplikasikan ke medium sebuah lagu? apakah fungsi—dan yang terpenting, efeknya—akan sebesar jika disampaikan lewat stand up comedy?

~

Jika membicarakan musik folk, tak bisa tidak kita perlu menyertakan nama Iwan Fals. Sebelum tenar dengan tembang romantis seperti Ijinkan Aku Menyayangimu, atau ketika lirik-liriknya masih kental dan melek terhadap isu sosial politik lewat lagu Guru Oemar Bakrie atau Pesawat Tempur, Iwan Fals pernah begitu ‘nyeleneh’. Pada lagu Dongeng Tidur Contohnya, Iwan Fals menulis lirik sebagai berikut:

‘Sedangkan waktu aku yang tidur, enggak jadi apa-apa yang jadi cuma beberapa pasang kecoak di kolong tempat tidurku’

Menulis lirik cinta dan penggunaan diksi yang ‘mahal’ memang akan sangat menyenangkan dan kalau sukses diterima pendengar, akan sangat sukses, contoh terdekat barangkali Efek Rumah Kaca dengan Sinestesianya, tapi diksi yang ‘murah’ mungkin bisa menjadi lebih relevan dan lebih terasa ‘membumi’. Iwan Fals telah sukses dengan itu, Warkop DKI turut mengikuti, kini contoh terdekat bisa kita temukan pada Silampukau, lirik witty dan quirky dibalut dengan situasi sosial kota Surabaya berhasil diterima masyarakat dengan baik, dan mudah-mudahan tongkat estafet ini bisa diteruskan oleh Jason Ranti.

~

Nama Jason Ranti pertama kali saya baca di linimasa twitter Rolling Stone Indonesia, saat itu Jason telah sukses menggelar debut album yang bertajuk Akibat Pergaulan Blues di Borneo Beer House, Kemang. Acara peluncuran album itu turut dimeriahi dengan mini talk show dengan narasumber kompeten dan kredibel seperti Soleh Solihun, Sir Dandy dan Oomleo. Setelah saya rasa cukup membaca artikel Rolling Stone, saya meluncur ke Youtube dan mengetik nama Jason Ranti

Video pertama yang muncul adalah Lagu yang berjudul Kafir, di bawahnya Jason membawakan lagu yang berjudul Bahaya Komunis.

Lewat lagu Bahaya Komunis saya akhirnya mengenal Jason Ranti dan juga karyanya, Jason dengan gembira dan kejenakaannya mencoba menyampaikan atau barangkali mengkritik masyarakat Indonesia yang sudah lebih dari 50 tahun terperangkap dalam paranoia kebangkitan komunis. Diksi-diksi yang erat kaitannya dengan komunis bertebaran di dalam lagu ini. Seperti genjer, Rusia, merah, palu dan arit, kiri hingga Marxis.

Impresi pertama yang saya dapat ketika mendengarkan lagu ini tentu masih dalam spektrum yang kecil. Saya masih tersenyum dan tertawa kecil ketika mendengarkan kalimat demi kalimat dalam lagu ini, membayangkan bahwa Jason entah begitu dungu atau justru begitu jenius.

Bagi saya pribadi—dan bisa saja saya salah—ada garis yang jelas yang membedakan lucu dan jenaka. Sebuah hal yang lucu membangkitkan impuls untuk tertawa, tanpa sebuah kontemplasi. Sedangkan kejenakaan (dalam hal ini, mungkin juga satir) tak musti membuat kita tertawa terbahak-bahak, namun hampir pasti meninggalkan ruang kontemplatif, dan sejauh ini, saya yakin personil dari Stairway To Zinna ini masih ke dalam kelompok yang kedua.

Kelompok yang kedua ini juga diiisi oleh Si Pelanggan milik Silampukau, penggalan lirik ‘di mana cinta tak musti merana dan banyak biaya’ terkait Dolly, yang dalam lagu ini digambarkan sebagai sebuah ruang publik yang romantis yang telah lepas dari najis.

Tak cukup sampai di situ, lewat Variasi Pink—yang dari segi musik begitu asik—Jason Ranti kembali menyampaikan kritiknya terhadap perempuan yang terjebak dalam lingkaran setan bernama make up.

Meski cukup kritis, namun Jason Ranti barangkali masih sulit dibenci. Keterusterangannya dalam bermusik dan pemilihan untuk tetap menjadi lugu dalam menulis lirik membuat tawa dan senyum masih menjadi tema umum ketika kita mendengarkan Akibat Pergaulan Blues, 11 lagu yang dirilis di bawah label rekaman Demajors ini menjadi pengingat kita bahwa di dunia yang segalanya musti tertata dan disiplin, kita masih mengharapkan lahirnya orang-orang seperti Jason Ranti, lewat gitar akustik dan rokoknya, merawat kejujuran dengan lantang.

Standar
puisi

Burqa

Kau paham betul

bahwa rasa bosan kerap muncul

dan cinta, barangkali cinta

selalu mengenakan burqa:

tak selalu tampak

meski dipacak senja.

~

Banyak yang kau habiskan

di badan kereta:

sebersit cahaya magrib

dan sisa-sisa gosip

tentang para pesohor

hingga kolega-kolega kantor.

~

Kota ini menenggelamkan mimpi bocah

dan meneror rumah-rumah.

Kau menutup diri

sebelum hujan, barangkali hujan

memakan malam hari

Standar
puisi

Stasiun

Ia tahu betul
bahwa rasa bosan kerap muncul
di stasiun. Tempat menunggu dengan sejarah panjang
bagi orang-orang
yang merindukan kamar tidur:
tempat badan yang uzur dipelitur, dipugar agar terkesan bugar.

Tak jarang ia menemukan
stasiun tempat yang paling damai
meski ramai
oleh celoteh dan gosip-gosip
menjelang magrib.
Ia tetap setia
untuk memperpanjang kenangan
di badan kereta. Seperti kawan SMA yang bereuni
di tempat kerja.

Tak jarang ia tetap hadir
pada jam keberangkatan terakhir
dan badan kereta
telah sepi
tak lagi sesak oleh tubuh para pekerja.

Di penghujung stasiun
ia akhirnya turun.
Seorang diri,
Ia sejujurnya tak pernah merasa
seutuhnya pergi.

Standar
puisi

Pos Ronda

Malam sudah semakin jilat
dan api unggun kian hangat
ketika dari jauh
aku melihat sosokmu
yang menempuh jalan yang remang.
Gelagat geliat yang begitu bengal, bunyi langkah yang begitu aku hafal dan lekuk luka yang sering membuat kantuk reda, yang menunda segala gelagat cuaca.

Ketika kau sampai di pos ronda
kau bertutur
sambil menenggak segelas anggur.
Seolah mimpi buruk
baru tiba
ketika kau mabuk
dan berkata-kata.

Kau bercerita
bahwa kau baru saja selesai bertarung bermodalkan sarung dengan sekumpulan berandalan
yang mencegat kau di perempatan.
di halte bis kau berjumpa
dengan seorang preman
yang mengaku-ngaku sebagai kawan
lama, teman mencontek ketika sekolah dulu kala.

Ceritamu yang hebat
baru berhenti
ketika matahari menggeliat
dan kopi tandas
menyisakan cangkir padat ampas.

Matahari yang tiba dari ufuk
mencoreng wajahmu yang masih setengah mabuk.
Dengan setengah sadar
kau berujar: aku akan pergi ke arah timur yang lebat oleh kebun anggur, yang ramai oleh senandung orang-orang murung. Jika kau punya waktu, temukan aku sebelum tanggal satu.

Pagi sudah semakin padat
dan unggun tinggal bara.
hidupmu kini tinggal tenggat, tinggal tanggal-tanggal yang kian merapat.

Standar
puisi

Kerikil

Tak jelas siapa yang abai
dari diri kami, yang seringkali mencoba menerka apakah lafaz terakhir dari mulut muazin bermakna sebuah sandi akan lonceng yang berdentang pada perang yang tak pernah sungguh kita mulai?

Apakah pada lafaz pertama yang keluar dari mulut muazin menjadi pengingat bahwa segala yang tertulis pada dini hari tak lebih dari sebuah puisi yang baru setengah jadi? yang tak sungguh-sungguh akan lahir, bagi kami orang-orang yang separuh kafir?

Pada lafaz terakhir mulut muazin sesungguhnya terangkum dengkur para peronda, termaktub amunisi senjata dan terdengar desing-dentum mortir yang berlarian di segala gang segala jalan yang tak sungguh tuntas kita jaga. Yang selalu merobek burqa, sejumput bocah palestina dari diri kita.

Sungguh, pada lafaz terakhir seorang muazin terpatri sebuah testamen sejarah yang lahir dari
jerat jerit tangis seorang bocah, yang lahir dari jerit jerat para penambang gamang di bawah tanah.

Standar
puisi

Tahun Baru Di Mata Para Pekerja

Banyak hal yang perlu kita singkirkan
menjelang tahun baru.
Resolusi harus dipancang tegap-tegap agar kita tak lagi terganjal
oleh masalah kecil.
Rumah harus dicat ulang
agar tak terasa ganjil.
Kamar tidur musti lenyap dari aroma sikil.
Kamar mandi masih mesra menggigil.

Terompet boleh kita tiup tanpa jeda, kembang api barang tentu sudah kita lepas ke udara, tapi bagaimana dengan nasib kalender tua, angka-angka yang tak selesai kita hitung, liburan yang tak pernah lengkap-rampung?

Ingatan kita pun kembali tak terungkap, kembali kedap oleh karnaval kembang api. Jam berdentang dua belas lagi. Kita kembali menyerah pada cawan anggur, kemeja putih dan sebiji dasi.

Besok kita harus kembali tunduk pada tindak tanduk jam kerja.
Besok kita akan pikul pukul-pukul yang menyekap kota kita yang renta

Standar