puisi

Burqa

Kau paham betul

bahwa rasa bosan kerap muncul

dan cinta, barangkali cinta

selalu mengenakan burqa:

tak selalu tampak

meski dipacak senja.

~

Banyak yang kau habiskan

di badan kereta:

sebersit cahaya magrib

dan sisa-sisa gosip

tentang para pesohor

hingga kolega-kolega kantor.

~

Kota ini menenggelamkan mimpi bocah

dan meneror rumah-rumah.

Kau menutup diri

sebelum hujan, barangkali hujan

memakan malam hari

Standar
puisi

Stasiun

Ia tahu betul
bahwa rasa bosan kerap muncul
di stasiun. Tempat menunggu dengan sejarah panjang
bagi orang-orang
yang merindukan kamar tidur:
tempat badan yang uzur dipelitur, dipugar agar terkesan bugar.

Tak jarang ia menemukan
stasiun tempat yang paling damai
meski ramai
oleh celoteh dan gosip-gosip
menjelang magrib.
Ia tetap setia
untuk memperpanjang kenangan
di badan kereta. Seperti kawan SMA yang bereuni
di tempat kerja.

Tak jarang ia tetap hadir
pada jam keberangkatan terakhir
dan badan kereta
telah sepi
tak lagi sesak oleh tubuh para pekerja.

Di penghujung stasiun
ia akhirnya turun.
Seorang diri,
Ia sejujurnya tak pernah merasa
seutuhnya pergi.

Standar
puisi

Pos Ronda

Malam sudah semakin jilat
dan api unggun kian hangat
ketika dari jauh
aku melihat sosokmu
yang menempuh jalan yang remang.
Gelagat geliat yang begitu bengal, bunyi langkah yang begitu aku hafal dan lekuk luka yang sering membuat kantuk reda, yang menunda segala gelagat cuaca.

Ketika kau sampai di pos ronda
kau bertutur
sambil menenggak segelas anggur.
Seolah mimpi buruk
baru tiba
ketika kau mabuk
dan berkata-kata.

Kau bercerita
bahwa kau baru saja selesai bertarung bermodalkan sarung dengan sekumpulan berandalan
yang mencegat kau di perempatan.
di halte bis kau berjumpa
dengan seorang preman
yang mengaku-ngaku sebagai kawan
lama, teman mencontek ketika sekolah dulu kala.

Ceritamu yang hebat
baru berhenti
ketika matahari menggeliat
dan kopi tandas
menyisakan cangkir padat ampas.

Matahari yang tiba dari ufuk
mencoreng wajahmu yang masih setengah mabuk.
Dengan setengah sadar
kau berujar: aku akan pergi ke arah timur yang lebat oleh kebun anggur, yang ramai oleh senandung orang-orang murung. Jika kau punya waktu, temukan aku sebelum tanggal satu.

Pagi sudah semakin padat
dan unggun tinggal bara.
hidupmu kini tinggal tenggat, tinggal tanggal-tanggal yang kian merapat.

Standar
puisi

Kerikil

Tak jelas siapa yang abai
dari diri kami, yang seringkali mencoba menerka apakah lafaz terakhir dari mulut muazin bermakna sebuah sandi akan lonceng yang berdentang pada perang yang tak pernah sungguh kita mulai?

Apakah pada lafaz pertama yang keluar dari mulut muazin menjadi pengingat bahwa segala yang tertulis pada dini hari tak lebih dari sebuah puisi yang baru setengah jadi? yang tak sungguh-sungguh akan lahir, bagi kami orang-orang yang separuh kafir?

Pada lafaz terakhir mulut muazin sesungguhnya terangkum dengkur para peronda, termaktub amunisi senjata dan terdengar desing-dentum mortir yang berlarian di segala gang segala jalan yang tak sungguh tuntas kita jaga. Yang selalu merobek burqa, sejumput bocah palestina dari diri kita.

Sungguh, pada lafaz terakhir seorang muazin terpatri sebuah testamen sejarah yang lahir dari
jerat jerit tangis seorang bocah, yang lahir dari jerit jerat para penambang gamang di bawah tanah.

Standar
puisi

Tahun Baru Di Mata Para Pekerja

Banyak hal yang perlu kita singkirkan
menjelang tahun baru.
Resolusi harus dipancang tegap-tegap agar kita tak lagi terganjal
oleh masalah kecil.
Rumah harus dicat ulang
agar tak terasa ganjil.
Kamar tidur musti lenyap dari aroma sikil.
Kamar mandi masih mesra menggigil.

Terompet boleh kita tiup tanpa jeda, kembang api barang tentu sudah kita lepas ke udara, tapi bagaimana dengan nasib kalender tua, angka-angka yang tak selesai kita hitung, liburan yang tak pernah lengkap-rampung?

Ingatan kita pun kembali tak terungkap, kembali kedap oleh karnaval kembang api. Jam berdentang dua belas lagi. Kita kembali menyerah pada cawan anggur, kemeja putih dan sebiji dasi.

Besok kita harus kembali tunduk pada tindak tanduk jam kerja.
Besok kita akan pikul pukul-pukul yang menyekap kota kita yang renta

Standar
Uncategorized

Ibuku Semestaku — Memar Memoar

Dalam ransel seorang pekerja tersimpan bekal ibu. Tak lebih segar dari mujaer warung tegal pinggiran. Tak lebih tanak dari nasi ibu kantin. Tak lebih sedap dari kudapan cafe-cafe jalanan. Bekal ibu adalah kasih yang terselip dalam seporsi nasi, lauk teri dan sambal terasi Bekal ibu adalah doa-doa dalam seporsi makan siang: ‘Semoga selamat sampai petang’ Bekal ibu menghindarkan bala, celaka yang tiba-tiba. […]

melalui Ibuku Semestaku — Memar Memoar

Standar