Uncategorized

Ibuku Semestaku — Memar Memoar

Dalam ransel seorang pekerja tersimpan bekal ibu. Tak lebih segar dari mujaer warung tegal pinggiran. Tak lebih tanak dari nasi ibu kantin. Tak lebih sedap dari kudapan cafe-cafe jalanan. Bekal ibu adalah kasih yang terselip dalam seporsi nasi, lauk teri dan sambal terasi Bekal ibu adalah doa-doa dalam seporsi makan siang: ‘Semoga selamat sampai petang’ Bekal ibu menghindarkan bala, celaka yang tiba-tiba. […]

melalui Ibuku Semestaku — Memar Memoar

Standar
puisi

Banjir

Kau pernah berujar

bahwa kota ini terlampau besar

dan oleh karenanya

lihai menjebak banjir

di mana-mana.

 

Banjir waktu: ada kalanya hanya reda di hari minggu.

Banjir amarah: menyisakan tim sar cadangan yang bertahan di dalam rumah.

Banjir rindu: sampannya terjebak di gengsi dan malu.

 

Ketika kau pergi melaut

kota ini mendadak menyusut

menjadi miniatur mini

yang tak berpenghuni.

 

Dan hujan seperti turis

yang tersasar

di sebuah dusun yang besar

yang tak bisa bahasa lokal

dan berupaya menghafal

jalan terdekat ke bandara.

 

Dahulu, kau pernah berujar

bahwa kota ini terlampau besar

dan lihai menjebak banjir

di mana-mana.

 

Kota yang mengenalmu sebagai aroma hujan

dan kemarau yang hanya akan.

Standar
puisi

Manasik

Ada sesuatu yang gagal kita eja, kata-kata yang tak mampu kita terjemahkan. Senja memang seutuhnya senja: kecemasan berwarna keemasan.

Kita barangkali masih belum mahir mengatup bibir, masih mati langkah untuk menarik lidah. Senja memang seutuhnya senja: gairah yang dibungkus pada pertukaran ludah.

Dengan begitu, mulut kita adalah gurun pasir: tempat pelukan enggan pensiun, lenguhan malu untuk berakhir.

Mulut kita adalah jazirah: tempat cinta dan nafsu kita embus dalam satu istilah.

Standar
puisi

Harapan

Kau menguap

ketika sumbu subuh belum padam

dan penyesalan akan malam

yang sia-sia tak berjeda

bahkan ketika kau berupaya keras menguras dan mengiris isi kepala

yang ribut dan ribet oleh berbagai nama.

 

Sepekan kebelakang

kau sering tidur terlambat

karena kau mulai paham bahwa kenangan tak bisa diralat

alih-alih ia malah tumbuh terawat.

 

Dan nasibmu sebagai pengangguran

tak banyak membantu

meski kau berdalih dengan bangun siang

kepalamu bisa sedikit ringan.

 

Kau menguap

bahkan ketika azan subuh sudah mulai reda

dan isi kepala kau penuhi dengan hal-hal yang tak kau suka

dan kucuran nama yang tak raib kau seka.

 Semoga kau berdamai dengan segala semoga dan tak lagi mengeluh untuk mengalah.

Standar
Uncategorized

Petani

Tiap kali kau berulang tahun

kau selalu meminta buku gambar.

Kau memang pernah berujar bercita-cita menjadi seorang perupa

yang handal, yang mampu mereplika wajah orang yang tak kau kenal.

 

Oleh karena itu, sebagai orang tua yang baik, ibumu memberikan buku gambar ukuran A3 lengkap dengan krayon dan pensil warna.

Gambar pertama yang kau gambar adalah sepasang gunung dengan matahari yang tersenyum dan bakal padi yang hampir ranum. Meski petaninya kau lupa gambar, ibumu tetap memuji bahwa gambarmu bagus dan dalam 10 tahun kedepan, namamu akan menghiasi surat kabar dan majalah ibukota, sebagai perupa yang besar dari rahim rahasia.

 

Berkat kerja keras dan semangat yang tak habis, keterampilanmu sebagai perupa tetap kau asah, tiap seminar dan pameran namamu kerap menjadi subyek pembicaraan. Dan sebagai perupa muda kau selalu tak bisa mengindari pertanyaan yang sama: bagaimana cara menggambar rahasia?

 

Lalu ingatanmu kau tarik ke belakang, ketika kau pulang sekolah dan menemukan pensil warnamu raib dan krayonmu patah, sementara buku gambar yang baru terbeli, tak meninggalkan jejak, tak meninggalkan gabah-gabah padi.

 

Dengan amarah yang membuncah

kau menemui ibu

dan menyiapkan rentetan beribu

pertanyaan

yang seharusnya ibu bisa jawab

dengan gampang.

 

Namun alih-alih dapat jawaban

kau melihat ibu berdiri dengan gamang

mungkin karena kau lupa apa alasan yang membuatmu menggambar pertama kali

atau bisa juga karena ketika kau menggambar sepasang gunung lengkap dengan matahari tersenyum serta bakal padi yang hampir ranum,

kau lupa menggambar seorang petani.

Standar
puisi

Omnivora

Selalu ada hal-hal yang gagal kau hafal

meski kau punya daya ingat yang tinggi

dan seringkali berprestasi di sekolah, di tiap jenjang

berbagai kompetisi dan ajang.

 

Selalu ada hal-hal yang gagal kau utarakan

meski kau kerap belajar bagaimana memaknai pepatah

serta penyair yang tak punya rumah

bagi kata yang ia tuliskan

dan pena yang ia patahkan.

 

Selalu ada misteri

yang kau sibak di dalam mimpi

nama-nama yang selalu menebak isi kepalamu

namun gagal menebas para pemberontak yang ada di dalam dadamu.

 

Selalu ada peluru dan pemburu

yang mengenali anyir darahmu,

bau yang kerap terlacak bahkan ketika kau belum memutuskan beranjak

dari sajak ini.

 

Sajak yang memahamimu sebagai

ramalan cuaca

bagi diriku yang sungguh pancaroba.

Standar